Rabu, 11 Desember 2013

makalah pertumbuhan kecambah




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
      Foto sintesis berasal dari kata Foton yang berarti cahaya, dan Sintesis yang artinya menyusun. Jadi Fotosintesis artinya proses penyusunan pada bagian tumbuhan (dari air dan karbohidrat ) yang mengandung klorofil dengan bantuan cahaya.
      Cahaya berperan penting dalam proses fotosintesis. Tanpa adanya cahaya,  tumbuhan tidak dapat menghasilkan makanan. Cahaya juga mempengaruhi pertumbuhan suatu tumbuhan. Meskipun demikian, intensitas cahaya yang diterima tidak boleh berlebihan ataupun kurang. Cahaya yang  berlebihan dapat merusak pertumbuhan pada tanaman menjadi terhambat. Sebaliknya, tanaman yang kekurangan cahaya dapat mengalami etiolasi (peristiwa pertumbuhan tanaman yang amat capat ditempat gelap).
      Pada tumbuhan  berbiji pertumbuhan dan perkembangan diawali dengan perkecambahan. Perkecambahan dimulai dengan proses penyerapan air oleh biji (imbibisi). Proses ini menyebabkan enzim-enzim pada biji menjadi bersifat aktif. Berbagai zat makanan kemudian dipecah untuk dihasilkan energi atau untuk menyusun struktur tubuh.
    Oksigen diperlukan dalam proses resirasi sel untuk menghasilkan energi. Selain itu, perkecambahan juga membutuhkan suhu yang tepat  untuk aktivasi enzim. Jika daun pertama sudah terbentuk, dimulailah proses fotosintesis.
    Fotosintesis akan membentuk gula (Gukosa) dari bahan baku CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari dan butir klorofil. Reaksi kimia fotosintesis berlangsung sebagai berikut :

1.2  Tujuan
      Mengetahui bagaimana pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan (tinggi batang) pada kecambah.

1.3  Variabel
1.      Variabel bebas
(adalah faktor yang sengaja dibuat berbeda oleh sipeneliti dan mempengaruhi timbulnya variabel) ; cahaya.
2.      Variabel terikat
(adalah faktor yang muncul akibat variabel bebas) ; tinggi batang.
3.      Variable kontrol
(adalah faktor yang sengaja dibuat hampir sama oleh sipeneliti karena tidak mempengaruhi variabel terikat) ; media tanam, kecambah, suhu.

1.4  Hipotesis
Adanya pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan kecambah.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1      Cahaya
    Cahaya merupakan faktor utama sehingga sumber energi dalam proses fotosintesis, untuk memproduksi tepung (Karbohidrat). Cahaya juga mempengaruhi pertumbuhan suatu tumbuhan . intensitas cahaya yang diterima oleh tumbuhan tidak boleh kurang atau berlebihan.
    Kekurangan cahaya pada saat berkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana pertumbuhan tanaman yang amat cepat ditempat gelap. Cahaya yang berlebihan dapat merusak auksin dan klorofil. Akibatnya, pertumbuhannya pada tanaman menjadi terhambat. Selain itu, cahaya akan mempengaruhi arah pertumbuhan dari kecambah, fenomena ini disebut fototropisme.ciri-ciri tanaman yang mengalami etiolasi yakni :
1.      Batang memanjag lebih cepat
2.      tanaman berwarna pucat
3.      batang bersifat lemah dan kurus
4.      daun tidak berkembang akbat kekurangan klorofil

2.2      Pertumbuhan
    Pertumbuhan merupakan proses penanaman ukuran (volume, masa tinggi atau panjang) yang permanen dan bersifat ptdiak dapat balik (inreversible). Pertumbuhan juga bersifat kuantintatif, artinya dapat dinyatakan dengan suatu bilangan atau dapat diukur. Pengukuran ini dapat dilakukan menggunakan Auksinometer. Auksonometr berfungsi untuk mengukur kecepatan bertambahnya panjang batang teanaman.
    Pertumbuhan suatu populasi organisme uniseluler teriditi  atas pembelahan bner individual sel secara berulang-ulang. Pembelahan tersebut akan menambah jumlah sel sehingga populanya semakin membesar. Pertumbuhan pada organisme multiseluler melibatkan pembelahan sel. Pertumbuhan pada organisme multiseluler diukur pada perubahan panjang, tinggi, berat setiap waktu tertentu (unit waktu).

2.3      Perkecambahan           
    Perkecambahan adalah keluarnya radikula menembus kulit biji. Proses perkecambahan (Germinasi) dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keadaan biji. Faktor lingkungan, yaitu ketersediaan air yang cukup, suhu yang sesuai dan ketersediaan oksigen. Biji yang sudah tua dan masak akan dapat berkecambah dengan baik. Perkecambahan diawali dengan masuknya air kedalam biji secara Imbibisi. Air masuk masuk ke dalam biji nelalui mikrofil dan testa. Masuknya air disebabkan oleh potensi air yang rendah pada biji yang kering, sehingga mengakibatkan biji membengkak dan kulit biki akan robek. Hal ini akan memicu perubahan metabolisme dalam embrio. Dengan masuknya air maka enzim akan aktif dan dapat mencerna cadangan makanan yang terdapat dalam endosperma dan kotiledon. Berbagai zat makanan kemudian dipecah untuk dihasilkan energi atau untuk menyusun steruktur tubuh. Oksigen diperlukan dalam proses respirasi sel untuk menghasilkan energi. Selain itu, perkecambahan juga membutuhkan suhu yang tepat untuk aktivasi enzim. Jika daun pertama sduah terbentuk, dimulailah proses fotosintesis. Berdasarkan letak kotiledon pada saat berkecambahan, ada dua perkecambahan yakni :
a.      Perkecambahan Epigeal
Pada perkecambahan epigeal, hipokotil tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong kepermukaan tanah.
b.      Perkecambahan Hipogeal
Pada perkecambah hipogeal, epokotil tumbuh memanjang, akibatnya plumula menembus kulit biji dan mucul kepermukaan tanah.




BAB III
PROSEDUR KERJA

Alat Dan Bahan
1.      Alat
·         Mangkuk / piring
·         Kardus
2.      Bahan
·         Kapas
·         Kacang hijau
·         Air

Cara Kerja
1.      Siapkan alat dan bahan
2.      Sedikit 2 piring, letakan kapas diatas piring tersebut
3.      Rendam kacang hijau, kemudian pilih kacang hijau yang tenggelam (menandakan kacang hijau sehat)
4.      Letakan kacang hijau pada media dengan diberi jarak
5.      Tetesi media tanaman degnan air secukupnya
6.      Letakkan kacang hijau pada tempat gelap dan tempat terang
7.      selama proses pengukuran berlangsung, kacang hijau sebaiknya ditetesi dengan air (secukupnya)




BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Data Hasil Pengamatan
Tabel 1
Pertumbuhan Kecambah Ditempat Gelap
No
Hari
Tinggi Kecambah ke .... (Dalam mm)
Rata-rata (dalam mm)
1
2
3
4
5
1
Kamis
0
0
0
0
0
0
2
Jum’at
0
5
7
5
7
4,5
3
Sabtu
15
7
10
5
10
9,4
4
Minggu
60
8
20
7
15
22
5
Selasa
120
10
42
9
16
39,4
6
Rabu
160
10
54
10
17
50.2
7
Kamis
235
17
120
32
28
86,4

Tabel 2
Pertumbuhan Kecambah Ditempat Terang
No
Hari
Tinggi Kecambah ke .... (Dalam mm)
Rata-rata (dalam mm)
1
2
3
4
5
1
Kamis
0
0
0
0
0
0
2
Jum’at
8
0
5
5
5
4,6
3
Sabtu
10
15
10
8
10
10,6
4
Minggu
15
17
15
8
15
14
5
Selasa
17
32
25
9
18
20,2
6
Rabu
19
45
35
10
25
26,8
7
Kamis
25
80
60
30
50
49



DIAGRAM HASIL PENGAMATAN

Add caption

4.2 Pembahasan
     Dari tabel dan grafik tersebut dapat terlihat bahwa pertumbuhan kecambah di tempat gelap dan ditempat terang sangat berbeda.
     Pada hari pertama ditempat gelap dan ditempat terang pertumbuhan belum terlihat sehingga mempunyai tinggi yang sama yaitu 0 maka rata-ratanya 0 mm.
     Pada hari kedua ditempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada tumbuhan kecambah nomor 3 dan 5 yang mempunyai tinggi 7 mm dan paling terendah pada tumbuhan nomor 1 dengan mempunyai tinggi tetap yaitu 0 mm. Sehingga tinggi rata-rata 4.5 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang paling tinggi yaitu pada tumbuhan nomor 1 dan paling terendah yaitu nomor 2 dengan tinggi batang 0 mm, dan tinggi batang rata-rata adalah 4.6 mm.
     Pada hari ketiga di tempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada tumbuhan kecambah nomor 1 yang mempunyai tinggi 15 mm dan paling terendah pada nomor 4 dengan tinggi 5 mm sehingga mempunyai tinggi rata-rata 9,4 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 2 dengan tinggi 15 mm dan paling terendah pada nomor 4 dengan tinggi 8 mm mempunyai tinggi rata-rata 10,6 mm.
     Pada hari keempat ditempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 1 dengan tinggi batang 60 mm, dan paling terendah pada nomor 4 dengan tinggi 7 mm, sehingga tinggi rata-ratanya yaitu 22 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 4 dengan tinggi batang 17 mm dan paling rendah pada nomor 4 dengan tinggi rata-rata batang 8 mm, sehingga mempunyai tinggi rata-rata 14 mm.
     Pada hari kelima ditempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 1 dengan tinggi batang 120 mm dan tinggi batang 9 mm, dan tinggi rata-rata 39,4 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang paling rendah yaitu pada nomor 4 dengan tinggi batang 9 mm dan tinggi rata-rata 20,2 mm.
     Pada hari keenam ditempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 1 dengan tinggi batang 160 mm dan tinggi batang paling rendah yaitu pada nomor 2 dan 4 yang memiliki tinggi yang sama yaitu 10 mm, dan tinggi rata-rata 50,2 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang poling tinggi adalah pada nomor 2 dengan tinggi batang 45 mm dan tinggi batang paling rendah yaitu pada nomor 4 dengan tinggi batang 10 mm dengan tinggi rata-rata 26,8 mm.
     Pada hari terakhir ditempat gelap yang mempunyai tinggi batang paling tinggi batang 235 mm dan tinggi batang paling rendah yaitu pada nomor 2 dengan tinggi batang 17 mm, sehingga tinggi rata-rata pada hari terakhir adalah 86,4 mm. Sedangkan ditempat terang yang mempunyai tinggi batang paling tinggi adalah pada nomor 2 dengan tinggi batang paling rendah adalah pada nomor 1 dengan tinggi batang 25 mm, tinggi rata-rata pada hari terakhir yaitu 49 mm.


BAB V
KESIMPULAN

            Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa pada tempat gelap pada saat perkecambahan berlangsung batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis, dan berwarna pucat tidak hijau. Sedangkan perkecambahan yang berlangsung ditempat terang akan  tumbuh lebih lambat, tetapi daunya tampak lebih lebar, tebal, hijau tampak segar dan batang kecambah tampak lebih kukuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa cahaya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah.




DAFTAR PUSTAKA

Windarsih Gut. 2010. Biologi. Klaten : Intan Pariwara

Prawirohartono, S. Dan hidayati, S. 2007. Sams Biologi. Jakarta : Bumi Aksara